irenacenter.com

irenacenter.com

Senin, 25 Juli 2016

Kontes 'Ratu-ratuan' Mundurkan Peradaban ke Zaman Jahiliyyah

Ilustrasi: Ar-Rahmah


Disadari atau tidak, ajang pemilihan puteri A dan puteri B merupakan bentuk penghinaan terhadap martabat perempuan. Kontes 'ratu-ratuan' seperti Miss Universe yang juga banyak diselenggarakan di Indonesia bukanlah suatu modernisasi, tapi kembali ke belakang ke zaman jahiliyyah.

Pada zaman jahiliyyah, masyarakat tidak menggunakan pemikiran atau kebijakan, tetapi yang digunakan adalah standar tubuh, fisik. Persis seperti yang dilakukan di ajang Miss Universe.

Kita lihat saja, apakah orang cantik itu mampu membuat bangsa menjadi sejahtera? Konkretnya, ketika ada orang sakit misalnya, apakah orang sakit itu tersembuhkan karena wajah cantik atau karena dokter? Ini jika kita berbicara secara medis.

Begitu juga dengan menata suatu negara, apakah suatu negara itu akan adil makmur, dipimpin oleh menteri-menteri yang cantik ataukah menteri- menteri yang tepat pada bidangnya? Jadi ukuran kecantikan sekarang ini adalah ukuran zaman dulu.

Kontes-kontes ini saya anggap sebagai suatu rekayasa terselubung untuk membuat bangsa ini mundur kembali, terutama kaum perempuannya. Mengapa yang dibidik kaum perempuan? Tuntunan agama Islam mengatakan, baik buruk perempuan adalah baik buruk negara itu sendiri.

Untuk itu perlu adanya pendekatan pada masyarakat agar menyadari bahwa kontes ratu-ratuan seperti ini tidak sesuai dengan aqidah Islam. Allah berfirman bahwa yang paling mulia di sisi Allah itu adalah orang yang bertaqwa, bukan orang cantik, bukan seperti ukuran para juri dalam kontes-kontes semacam itu, seperti dada diukur, pinggul diukur, bukan. Bukan itu yang akan dinilai, melainkan kadar taqwa masing-masing.

(Archive IC/dudung.net)


Sabtu, 18 Juni 2016

Sekularisme, Propaganda Anti Agama Lumpuhkan Ummat


Oleh: Hj. Irena Handono

ISLAM bukan sekadar 'dakwah agama'. Islam bukan hanya sekadar keyakinan atau hubungan ruhani antara individu dengan Rabb-nya sehingga tidak memiliki hubungan sama sekali dengan urusan-urusan materi dalam kehidupan dunia ini. Seperti perkataan mereka, "agama adalah satu hal, dan politik adalah hal lain".

Pengebirian Islam yang hanya boleh berbicara pada wilayah spiritual saja dan dibatasi untuk tidak masuk pada persoalan-persoalan politik merupakan upaya pembatasan-pembatasan yang akhirnya berujung pada peniadaan ajaran Islam sebagai satu-satunya hukum yang mengatur manusia. Dan inilah yang disebut sebagai sekularisme.

Islam tidak bisa lepas dari berbicara tentang harta, perang dan juga politik. Karena ajaran Islam adalah mengatur tentang segala hal urusan dunia dan tidak terbatas hanya berbicara di wilayah spiritual saja.

Negara Islam
 
Islam memandang negara adalah sebagai penyelenggara atau pelayan manusia. Dan tiap manusia mempunyai kewajiban untuk beribadah pada sang Khaliq nya. Untuk itu sebuah negara harus memfasilitasi dengan perundang-undangan dan perangkat penegak hukum demi melayani kemudahan dan keteraturan tiap pribadi/warga negara dalam menjalankan kewajibannya.

Sebuah negara dengan sistem Islam dan undang-undang Islam akan menjamin keadilan, kesejahteraan semua warganya termasuk non-muslim. Melindungi warganya dari pemaksaan aqidah (pemurtadan), menjaga harta tiap-tiap warga, menghargai intelektualisme dan menjaga jiwa, martabat manusia. Islam menolak kapitalisme, imperialisme yang berujung pada penguasaan kekayaan pada sebagian kecil orang dan penjajahan manusia atas manusia yang lain.

Dr. V. Fitzgerald berkata: "Islam bukanlah semata agama (a religion), namun ia juga merupakan sebuah sistem politik (a political systems). Meskipun pada dekade-dekade terakhir ada beberapa kalangan dari umat Islam, yang mengklaim diri mereka sebagai kalangan 'modernis', yang berusaha memisahkan kedua sisi itu, namun seluruh gugusan pemikiran Islam dibangun di atas fundamental bahwa kedua sisi itu saling bergandengan dengan selaras, yang tidak dapat dapat dipisahkan satu sama lain".

Prof. C. A. Nallino berkata: "Muhammad telah membangun dalam waktu bersamaan: agama (a religion) dan negara (a state). Dan batas-batas teritorial negara yang ia bangun itu terus terjaga sepanjang hayatnya".

Dr. Schacht berkata : " Islam lebih dari sekadar agama: ia juga mencerminkan teori-teori perundang-undangan dan politik. Dalam ungkapan yang lebih sederhana, ia merupakan sistem peradaban yang lengkap, yang mencakup agama dan negara secara bersamaan".

Prof. R. Strothmann berkata : "Islam adalah suatu fenomena agama dan politik. Karena pembangunnya adalah seorang Nabi, yang juga seorang politikus yang bijaksana, atau "negarawan".

Prof D.B. Macdonald berkata : "Di sini (di Madinah) dibangun negara Islam yang pertama, dan diletakkan prinsip-prinsip utama undang-undang Islam".

Sir. T. Arnold berkata : " Adalah Nabi, pada waktu yang sama, seorang kepala agama dan kepala negara".

Prof. Gibb berkata : "Dengan demikian, jelaslah bahwa Islam bukanlah sekadar kepercayaan agama individual, namun ia meniscayakan berdirinya suatu bangun masyarakat yang independen. Ia mempunyai metode tersendiri dalam sistem kepemerintahan, perundang-undangan dan institusi".

Sekularisme Melumpuhkan Gereja

Sekularisme lahir di barat. Saat itu kerajaan-kerajaan di barat menganut sistem pemerintahan teokrasi. Dalam sistem ini kepemimpinan sebuah kerajaan sangat tergantung pada pemuka-pemuka agama/pendeta. Namun gereja gagal memberikan konsep kepemimpinan yang membawa kemaslahatan bagi umat. Terbukti sekian tahun dengan sistem teokrasinya, negara-negara barat diliputi masa kegelapan yang menyedihkan.

Sehingga kemudian muncullah konsep-konsep pemikiran yang menentang gereja, antara lain : sekularisme, modernisme, dan liberalisme. Konsep-konsep ini sukses membuat gereja lumpuh.

Sebagai contoh, di Amsterdam, yang 200 tahun lalu 99 persen penduduknya beragama Kristen, sekarang tinggal 10 persen saja yang dibaptis dan ke gereja. Kebanyakan mereka sudah tidak terikat lagi dalam agama atau sudah menjadi sekuler. Di Perancis, yang 95 persen penduduknya tercatat beragama Katolik, hanya 13 persennya saja yang menghadiri kebaktian di gereja seminggu sekali.

Pada tahun 1987, di Jerman, menurut laporan Institute for Public Opinian Research, 46 persen penduduknya mengatakan, bahwa "agama sudah tidak diperlukan lagi". Di Finlandia, yang 97 persen Kristen, hanya 3 persen saja yang pergi ke gereja tiap minggu. Di Norwegia, yang 90 persen Kristen, hanya setengahnya saja yang percaya pada dasar-dasar kepercayaan Kristen. Juga, hanya sekitar 3 persen saja yang rutin ke gereja tiap minggu.

Di negara-negara Kristen Barat itu, nilai-nilai agama Kristen sudah hancur. Masyarakat sudah tidak peduli nilai-nilai Kristen. Pemimpin yang jelas-jelas melakukan kejahatan seksual seperti Bill Clinton tetap dipilih. Bahkan, hal-hal yang jelas-jelas ditentang oleh Kristen, seperti homoseksualitas dan aborsi, sudah menjadi tradisi. Semua itu adalah akibat arus sekularisasi dan liberalisasi.

Menghancurkan Muslim dengan Sekularisme

Lalu bagaimana menghancurkan muslim yang hampir setiap negerinya memiliki  kekayaan sumber alam yang melimpah? Maka sistem Islam dan perundang-undangan Islam tidak boleh menjadi hukum yang berlaku. Muslim dibuat sedemikian agar jauh dari nilai-nilai dan hukum Islam. Sehingga dengan demikian menjadi sasaran empuk bagi pemurtadan.

Mereka paham, bahwa sekularisme adalah senjata pemusnah massal yang ampuh untuk memusnahkan nilai-nilai agama, sebagaimana yang terjadi di wilayah Kristen. Dan senjata inilah yang mereka pakai terhadap muslim. Upaya pengembalian partai-partai pada azas tunggal dan pelarangan azas Islam, jelas sudah sesuai dengan agenda misionaris.

Cara misionaris yang lain adalah, tidak perlu langsung mengubah keyakinan muslim, namun cukup dengan melemahkan keyakinannya dan membentuk pola pikir muslim menjadi sama dengan pola pikir kaum kafir.

Demikian juga propaganda anti-agama, mencemoohkan agama, dan menghapuskan kepercayaan sama sekali kepada adanya Allah, itupun dikerjakan pula oleh orang kafir dengan mengeluarkan belanja yang besar. Yang menjadi sasaran tiada lain adalah negeri-negeri Islam.

Karena itu, kita dapat pahami bahwa sekularisme adalah program misionaris di Indonesia. Kepentingan mereka adalah melemahkan aqidah dan akhlak kaum Muslim. Tetapi, dapatkah kita memahami, jika ada umat atau tokoh politik atau tokoh Islam yang mengkampanyekan hal yang sama dengan kelompok misionaris itu? Wallahu a'lam bishowab.
***

Kamis, 16 Juni 2016

Islam Banyak Difitnah Karena Kesempurnaannya

Hj. Irena Handono
Banyaknya fitnah yang menimpa kalangan umat Muslim, tak lepas dari sifat agama Islam yang sempurna. Demikian disampaikan Irena Handono, pendakwah Islam dalam temu akbar tokoh mualaf, Rabu (28/12) di Masjid Pondok Indah.

"Fitnah terjadi karena kesempurnaannya. Mereka iri dan dengki dengan kesempurnaan tersebut," ujar dia kepada para jamaah masjid yang mengikuti kajian dengan tema 'Mengapa Kita Harus Memilih Islam'.

"Andaikata Islam agama yang kurang atau jelek tentu tak ada fitnah," kata mantan biarawati yang telah memeluk Islam sejak tahun 1983 ini.

Fitnah yang diderita oleh umat Muslim membawa dampak yang cukup parah. Secara sederhana, ia membandingkan remaja masjid yang jumlahnya jauh lebih sedikit dengan remaja mal.

Agar terhindar dari fitnah, ia mengimbau kepada umat muslim agar senantiasa mencari ilmu. Jumlah pemeluk Islam yang terus bertambah di Barat tak lepas dari minat baca yang sangat besar dari mereka.

"Islam banyak dihujat, tapi semakin difitnah, justru semakin banyak orang yang tertarik mempelajarinya," kata dia.

Banyak jawaban tentang segala penasaran tersebut yang bisa didapatkan jawabannya dalam buku-buku Islam. Keadaan muslim di Barat cukup berkebalikan dengan kondisi Muslim di Indonesia. "Banyak umat Islam (Indonesia) yang sudah meninggalkan iqro," tambah dia.

Iqro yang dimaksud bukanlah buku panduan membaca Alquran yang terdiri dari enam jilid, Iqro yang Irena maksud adalah soal membaca dan mencari ilmu.

(Dikutip dari http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/11/12/29/lwxx8q-islam-banyak-difitnah-karena-kesempurnaannya)

Minggu, 22 Mei 2016

Mitos yang Diyakini Kaum Yahudi

Hj Irena Handono
Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center


Sebuah acara makan di hari suci Yahudi, selalu ditutup dengan kalimat "Next Year in Jerusalem." Satu kalimat yang mengungkapkan cita-cita mereka untuk menduduki Yerusalem.

Kaum Yahudi di Israel terus menerus meneror warga Pa-lestina. Apa yang membuat Yahudi berkeras ingin mengu-asai tanah Palestina secara keseluruhan walau fakta sejarah membuk-tikan bahwa tanah tersebut adalah milik Muslim?

Yerusalem dalam Taurat

Hubungan antara Yahudi dan Yeru-salem bisa dilihat di Bibel Perjanjian Lama. Menurut pandangan Yahudi, daerah yang paling suci adalah Mount Moriah (Gunung Moriah), yang kemudian dikenal dengan Temple Mount (Kuil Gunung). Area ini yang mereka klaim sekarang terletak di bawah bangunan milik Muslim, the Dome Of the Rock atau Kubbah As-Sakhra.

Dalam Perjanjian Lama (Taurat), Yerusalem mempunyai banyak nama, Salem (Shalem), Moriah, Jebuse (Yevuse), Jerusalem (Yerushalayim), and Zion (Tzi-yon). Dan terbanyak yang disebutkan dalam Perjanjian Lama adalah Yerushala-yim, yang disebutkan sebanyak 349 kali, sementara Tziyon disebutkan sebanyak 108 kali.

Menurut kepercayaan Kabbalah, suatu tradisi mistis Yahudi, batu dari Gunung Moriah yang kenal sebagai "Even Shtiyah"- the Drinking Stone (batu yang sedang minum), adalah pusat dari alam semesta, tempat di mana dunia terairi secara spiritual.

Kisah-kisah dalam Bibel yang ber-hubungan dengan Gunung Moriah sangat banyak, antara lain adalah: Ketika Ishak pergi ke sebuah lapangan ia bertemu Ribka untuk pertama kalinya (Kitab Kejadian 24:63-67), dia berdiri di gunung Moriah (Yerusalem). Mimpi Jakub naik ke surga melihat para malaikat turun tangga (Kejadian 28:10-22), juga terjadi di tempat ini, gunung Moriah (Yerusalem).

Mitos Yerusalem Dipegang Kuat

Keyakinan ini masih hidup, sangat dipercayai oleh orang Yahudi sekarang. Ini tampak dalam ritual-ritual mereka. Contoh: Ketika seorang Yahudi berdoa 3 kali sehari, mereka selalu menghadap Yerusalem. Jika sedang berada di Yerusalem, maka mereka berdoa menghadap Temple Mount. Yerusalem disebutkan berkali-kali dalam doa keseharian Yahudi dan dalam doa terima kasih setelah makan.

Orang Yahudi menutup Passover Seder, yakni acara makan dalam hari suci Yahudi, selalu dengan kalimat "Next Year in Jerusalem." Satu kalimat yang mengung-kapkan cita-cita mereka untuk menduduki Yerusalem. Hari berduka cita/berkabung Yahudi, Tisha B'Av, memperingati peru-sakan Kuil yang pertama dan kedua.

Ketika dalam acara pernikahan Yahudi, pengantin memecahkan sebuah gelas sebagai tanda mengingat kedukaan terhadap perusakan kedua kuil yang berdiri di Gunung Moriah.

Menyambut Kedatangan Mesiah

Dan orang Yahudi yang beriman selalu menyisakan tempat kecil pada dinding rumah mereka tanpa diplester tanpa dicat. Ini sebagai tanda kedukaan perusakan Kuil. Dalam keyakinan Yudais-me, yang sesungguhnya telah bergeser jauh dari Taurat yang dibawa oleh Musa as, bangsa Yahudi yakin bahwa kelak seorang Messiah akan datang mengangkat derajat dan kedudukan bangsa Yahudi menjadi pemimpin dunia. Kehadiran Mesiah inilah yang menjadi inti dari semangat kaum Yahudi untuk memenuhi Tanah Palestina.

Bagi zionis Yahudi, mereka meng-anggap Kuil Sulaiman harus sudah berdiri untuk menyambut kedatangan Messiah yang akan bertahta di atas singgasananya yang pada akhirnya diperuntukkan bagi pusat pemerintahan dunia (One World Order).

Ada satu syarat lagi menjelang hadir-nya Messiah, yakni mereka harus mene-mukan dan menyembelih serta membakar seekor sapi betina berbulu merah berusia tiga tahun dan belum pernah melahirkan anak. Untuk yang satu ini pun kaum Zionis telah mempersiapkannya. Melalui suatu proses rekayasa genetika, di tahun 1997, mereka telah mendapatkan seekor sapi dengan ciri-ciri tersebut.

Hanya saja, mereka terbentur satu persyaratan lagi, yakni penyembelihan dan pembakaran sapi merah ini harus dilakukan di atas kaki Bukit Zaitun. Masalahnya saat ini bukit Zaitun masih berada di tangan bangsa Palestina. Sebab itu, kaum Zionis selalu berupaya tanpa lelah mengusir orang-orang Palestina dari wilayah ini.

Membangun Haikal Sulaiman

Para ahli arkeologi sepakat,  ibukota Kanaan dan ibukota kerajaan Daud as berlokasi di tempat yang sekarang ini adalah kampung Arab, Silwan, beberapa kilometer sebelah selatan  tembok ”baru” dari Kota Tua.

Kuil Sulaiman (Haikal Sulaiman) juga dikenal sebagai Beit HaMikdash (Kuil yang Suci). Pemilihan lokasi kuil ini dahulu dilakukan oleh Nabi Daud as yang saat itu beliau menunjuk puncak gunung Moriah (II Samuel 24:18-25). Kitab 1 Raja-raja 6-8 menggambarkan dengan detail bagaima-na anak Daud as, Raja Sulaiman, memba-ngun dan meresmikan Kuil. Walaupun hingga kini belum ada kejelasan pasti di mana lokasi Haikal Sulaiman berada, tapi sementara semua pakar arkeologi setuju bahwa bangunan itu berdiri di atas Gunung Moriah. Yahudi mengklaim di Al-Aqsa. Padahal tidak ada yang tahu pasti.

Itulah beberapa mitos yang dipegang kuat oleh Yahudi. Zionisme bukan sekadar gerakan 'religion', tapi sebuah gerakan makar besar untuk menguasai dunia dalam satu tatanan, The New World Order, Novus Ordo Seclorum. Sebuah sistem dunia yang menghamba pada Lucifer (setan). (IrenaCenter/MediaUmat/Archive)

Kamis, 19 Mei 2016

Potret Pendidikan yang Memprihatinkan

Foto: pmiiugm.org
Dunia pendidikan Indonesia sedang berduka. Para siswa Sekolah Dasar sekarang sudah mengenal istilah gank. Mereka nge-gank, dan bebas membully teman di luar gank mereka. Belum lagi siswi yang kedapatan merokok dengan leluasa, dan dengan bangganya dipamerkan di sosial media.

Ketika siswa-siswa itu mengalami degradasi moral, para pengajar pun harus dibuat ketakutan dilaporkan ke aparat penegak hukum apabila menegur siswa-siswa mereka. Terus terang, dengan berat hati saya katakan, fase perang pemikiran sudah semakin mendekati titik kulminasi.

Ingatkah dengan anak-anak Palestina yang dihabisi bangsa Israel? Mengapa mereka membunuh anak-anak tak berdosa? Karena mereka tidak ingin anak-anak Palestina tumbuh menjadi generasi Islam yang tangguh, yang bisa jadi di kemudian hari melakukan perlawanan dan mengancam eksistensi kaum laknatullah 'alaihim.

Namun yang terjadi di Indonesia, "pembunuhan" yang dilakukan tidak dengan cara menumpahkan darah. Pembunuhan dilakukan secara perlahan, tersistem, dan nyaris tidak kentara. Anak-anak dan cucu-cucu kita dirusak moralnya melalui tontonan dan segala macam kebebasan yang mudah diakses di gawai (gadget) mereka. Anak-anak dan cucu-cucu kita dirusak dengan cinta monyet dan gaya pacaran masa kini. Anak-anak dan cucu-cucu kita dirusak dengan narkoba berkemas cokelat, atau candu yang dimasukkan ke dalam tinta pulpen mereka, sehingga berbau harum. Dan anak-anak juga cucu-cucu kita dirusak oleh penyesatan demi penyesatan di buku-buku ajar mereka.

Ini adalah potret buram pendidikan di negeri kita hari ini. Barangkali di luar sana, masih ada mereka yang halus budi dan tuturnya. Namun, kalau virus mematikan ini menjangkiti mereka, mau apa?

Saya pernah mengingatkan tuturan Imam Syafi'i, syubbanul yaum rijalul ghad. Pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok. Kalau dari sekarang anak-anak dan cucu-cucu kita sudah dirusak sedemikian dahsyat, akan seperti apa pemimpin negeri kita 30 tahun ke depan?

Bapak dan ibu yang saat ini mengemban profesi mulia sebagai guru, jangan pernah letih mendidik putera-putera bapak/ibu di sekolah, agar tumbuh menjadi generasi yang benar-benar diharapkan bangsa. Setidaknya, dari 24 jam waktu dalam sehari, terjalin kebersamaan seorang siswa dengan gurunya selama 9 jam. Maka pada saat inilah, seorang siswa memperoleh curahan kasih sayang dari bapak/ibunya di sekolah. Sayangi, jangan menakuti. Generasi hari ini adalah generasi yang offensive. Generasi mudah membantah. Generasi mudah melawan. Semoga dengan pendekatan yang tepat, akan menghasilkan putera-puteri yang bermartabat. In syaa Allah.

Rabu, 11 Mei 2016

Untukmu, Anak-anakku

Tentu kita masih ingat kisah Ashabul Kahfi, sekelompok tujuh pemuda yang meninggalkan kaumnya yang menyimpang dan memilih tunduk patuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Keteguhan iman mereka mengantarkan para pemuda tersebut ke dalam sebuah gua, dan tertidur di dalamnya selama 309 tahun, hingga masa kegelapan kaumnya berakhir.

Saking pentingnya peran pemuda dalam menegakkan tauhid, sampai-sampai Allah memberitahukan kisah tersebut kepada kita melalui Al-Quranul Kariim. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga memberi perhatian khusus kepada generasi muda.

Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata: Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi). (dari Syarh Hadits Ke-19 Arbain an Nawawiyyah)

Imam Syafi'i pernah bertutur, syubbanul yaum rijalul ghod. Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan. Lebih lanjut, beliau juga menyatakan, pemuda distandardisasi dari kualitas ilmu dan ketakwaannya. Jika keduanya tidak melekat pada struktur kepribadiannya, ia tidak layak disebut pemuda.

Tauhid = Harga Mati

Pembaca yang budiman, baik ayat Allah, apa yang disampaikan Rasulullah, dan hikmah yang dituturkan Imam Syafi'i, ternyata, pemuda memiliki peran penting dalam kelangsungan sebuah kehidupan. Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan. Untuk menjadi pemimpin yang mengayomi warganya kelak, maka diperlukan bekal sebagaimana sabda Rasulullah. Dan bekal yang paling utama adalah mentauhidkan Allah Ta'ala.

Mengapa? Karena tauhid, beriman sepenuhnya kepada Allah, adalah harga final. "… Barangsiapa yang mensekutukan Allah, maka Allah haramkan baginya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka…" (QS Al-Maidah (5) :72)

Dengan berbekal ketauhidan, misi seorang pemuda ketika dia menjadi pemimpin nantinya, tidak akan melenceng jauh dari hukum dan syariat yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Maka Rasulullah dalam sabdanya meminta para pemuda untuk "menjaga Allah". Bagaimana cara menjaga Allah? Antara lain menjalankan perintahNya, dan menjauhi larangan-laranganNya. Termasuk, menegakkan shalat.

Kaum Muda, Berdakwahlah!

Namun rupanya, peran pemuda sebagai calon pemimpin di masa depan, tidak cukup berhenti dengan beriman kepada Allah, RasulNya, dan segala ketetapanNya. Seorang pemuda harus tampil di garda terdepan untuk berdakwah. Amar ma'ruf, nahi munkar.

Kita ingat sosok-sosok pemuda Muslim yang menorehkan tinta emas dalam perjalanan sejarah Islam. Ali bin Abi Thalib yang saat itu baru berumur 8 tahun, memiliki kecerdasan dan kepiawaian dalam strategi berperang serta menjadi khalifah pada usia muda. Kemudian Abdullah bin Mas’ud (14) yang kelak menjadi salah satu ahli tafsir terkemuka, Saad bin Abi Waqqash (17) yang kelak menjadi panglima perang yang menundukkan Persia, Jafar bin Abi Thalib (18), Zaid bin Haritsah (20), Utsman bin Affan (20), Mush’ab bin Umair (24), Umar bin Khatab (26), Abu Ubaidah Ibnul Jarah (27), dan Muhammad Al-Fatih (24) yang memelopori penaklukan Konstantinopel.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali-Imran (3): 110).

Jangan membebankan kewajiban dakwah hanya kepada para ulama. Tekunlah dalam mengkaji ilmu agama sedari kini. "Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar, Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya." Demikian Imam Syafi'i berpesan. Tularkanlah kebaikan kepada sesama, meski hanya sepenggal ayat.

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).

Adakah batasan tentang siapa yang menyampaikan? Apakah ayat Allah dan hadits Rasulullah mengalamatkan kepada generasi yang sudah memasuki usia paruh baya? Tidak. Tidak ada perintah itu. Yang ada adalah perintah berdakwah untuk seluruh ummat Islam. Di manapun, siapapun, dan kapanpun.

Apa langkah awal untuk percaya diri dalam menyampaikan al-haq kepada masyarakat luas? Mulailah dari diri sendiri dan keluarga. Ibda' binafsika. Baru kemudian merambah ke pertemanan, dan akhirnya kepada masyarakat luas.

"Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS Muhammad (47) : 7).

Salam,

Irena Handono

Jumat, 18 Maret 2016

Ironi Fitnah Terhadap Ulama di Negeri Mayoritas Muslim

Beberapa hari terakhir, umat Islam di Indonesia, khususnya Jakarta, digemparkan dengan sebuah foto yang disertakan dalam sebuah berita. Dari judulnya, tendensius sekali. Sebuah organisasi Islam mendukung salah seorang calon pemimpin yang bukan dari kalangan Muslim. Dan setelah dilakukan tabayyun, ternyata apa yang dimuat adalah rekayasa dan fitnah semata.

Penghinaan dan fitnah yang dilakukan terhadap para ulama, da'i, dan da'iyah, tidak hanya kali ini saja. Dalam lintasan sejarah, Imam Syafi’i dituduh sebagai paranormal. Imam Thabari dituding Syiah, dan Imam Syathibi dituding sebagai Rafidhah. Lebih lanjut, Abu Atahiyah dituduh zindiq. Abu Umar Ath-Thalamanki dituding Khawarij. Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan ulama lainnya juga berulangkali ‘panen’ fitnah.

Bahkan secara pribadi, saya, di tahun 2009, pernah mengalami fitnah yang berujung pada mubahalah. Saya difitnah pernah mengenakan baju biarawati di sebuah gereja di Singapura dan mengenakan kalung salib di balik jilbab yang saya kenakan. Dampaknya sangat terasa terhadap ummat. Betapa guncang jamaah saya saat itu. Beberapa muallaf di Sulawesi kembali murtad mendengar tuduhan itu. Namun Alhamdulillah, atas perkenan Allah, segalanya kembali berjalan baik.

Sampai disini ada kesimpulan yang bisa kita tarik. Ternyata, pada hal-hal tertentu, mereka yang gembira dan bangga dengan sekularisme, masih membutuhkan agama sebagai komoditas politik. Segala cara dilakukan tanpa mempertimbangkan mudharatnya. Bagi mereka, apa saja boleh dilakukan, asalkan tujuannya tercapai.

Saya mendorong para asatidz untuk tidak gentar berdiri di atas jalan dakwah ini. Dan bagi seluruh kaum Muslim di Indonesia, sudah saatnya berhenti berpecah belah. Saatnya tidak lagi memperdebatkan masalah khilafiyah. Sudah saatnya untuk bahu-membahu, membangun ukhuwah, untuk menuju peradaban Islam yang mulia.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad:7)