irenacenter.com

irenacenter.com

Selasa, 12 Agustus 2014

Subhanallah, Irene Handono Telah Islamkan 500 Lebih Muallaf




Pada 2003 Irena Center berdiri, semua bermula dari pengalaman pribadi, Irena Handono, mantan biarawati yang berkisah tentang sulitnya memperoleh binaan, seusai menyatakan  Muslimah.

Lembaga itu ialah pusat kajian dan pembinaan pembentengan akidah. Para peserta datang, tak hanya dari domestik, tetapi juga mancanegara. Ada Australia, Denmark, hingga Selandia Baru. “Tanpa pembinaan, sulit mereka mengenal Islam,” kata Irena.

Ada juga mualaf yang bingung, setelah masuk Islam bergabung ke majelis taklim mana? Adakah majelis taklim yang mau menerima mualaf? Ketika Lebaran mereka mau ke mana, karena diusir keluarganya. Ibaratnya, berbagai persoalan yang dihadapi mualaf, jawabannya bisa didapat di Irena Center.

Banyak kegiatan digelar. Mulai dari mereka yang baru tertarik Islam, berdiskusi, konsultasi, hingga yang mantap mengucapkan syahadat. Setelah masuk Islam baru dilakukan pembinaan. Pembinaan berkaitan dengan akidah, fikih, mengaji Alquran, serta membangun komunitas baru sesama mualaf.
Sebagai pusat mualaf, Irena Center berbeda dengan asrama atau pondok pesantren. Mualaf datang sesuai keperluannya, tapi tidak menginap. Kecuali ada pelatihan khusus yang memang mengharuskan para mualaf menginap.

“Seperti menjelang Ramadhan, para mualaf aktif mengikuti kegiatan di lembaga ini,” papar Irena yang sudah mengislamkan lebih dari 500 mualaf. Tak sedikit risiko yang harus dihadapi kala membina mualaf. Namun, Irena mengaku hanya pasrah kepada Allah.

Selama sembilan tahun eksis membina mualaf, Irena mengakui, tidak sedikit kendala yang dia hadapi. Setiap perjuangan penuh tantangan, tidak ada yang berjalan mulus. Mulai dari fitnah, teror, hingga pencemaran nama baik. Semua itu diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

“Saya yakin bahwa apa yang dilakukan ini semata-mata hanya karena Allah. Pada akhirnya terbuka mana yang benar dan salah,” ungkap wanita yang menyatakan Islam sejak 1980-an ini.

Ada satu hal miris. Tidak sedikit mualaf yang diusir keluarganya, hancur usahanya. Karena Irena Center bukan yayasan zakat, ketika mereka membutuhkan bantuan finansial, sulit terpenuhi. “Kalau ada saya beri, tetapi kalau tidak ada, saya sedih sekali karena tidak bisa membantu mereka,” tutur Irena.

Hal ini mendorongnya mendirikan lembaga zakat. Ke depan, ia ingin mendirikan pondok pesantren mualaf, khususnya perempuan. “Semoga ada jalan dan Insya Allah ada jalan dari Allah,” ujarnya berharap.

An-Naba’ Center
Di lain pihak, An Naba’ Center eksis mendampingi mualaf sejak tahun 2006. Yayasan Pembinaan mualaf ini digagas oleh Syamsul Arifin Nababan. Motivasinya membina mualaf yang kerap tak terjamah.

Mereka ditempa dengan ilmu keislaman. Konsep pembinaannya melalui pondok pesantren. Secara fisik pesantren mualaf telah berdiri sejak 2008 di kawasan Sektor Sembilan Bintaro, Tangerang.

Sedangkan sebelumnya, Syamsul yang juga mualaf melakukan pembinaan secara berpindah-pindah dari masjid ke masjid. Kini dengan adanya pondok pesantren, pembinaan mualaf bisa lebih fokus lagi. (sumber: republika.co.id./11/08/2012)

-----
Disadur dari  http://www.muslimuna.com/2012/11/subhanallah-irene-handono-telah.html?m=0

5 komentar:

  1. assalamu'alaikum ustadzah, ustadzah kapan bisa ke surabaya sekalian ketemu dengan Ust Abutaqi Machiky Mayestino TrionoSoendoro atau nama aslinya Machiky Mayestino TrionoSoendoro​​?
    saya murid Ust Abutaqi

    BalasHapus
  2. Ma sha Allah,,semoga ustadzah selalu dalam lindungan Allah SWT...sangat menginspirasi..

    BalasHapus
  3. Subhanallahi wal hamdulillahi walaa ilaaha illallahu wallaahu akbar.,

    BalasHapus
  4. Subhanallahi wal hamdulillahi walaa ilaaha illallahu wallaahu akbar.,

    BalasHapus
  5. Subhanallah....sungguh mulia ummi hj. Irena Handono...In Syaa ALLAH selalu dalam Keberkahan dan Lindungan NYA....Aamiin Yaa Robbal Aalamiin

    BalasHapus

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.