Kamis, 19 Mei 2016

Potret Pendidikan yang Memprihatinkan

Foto: pmiiugm.org
Dunia pendidikan Indonesia sedang berduka. Para siswa Sekolah Dasar sekarang sudah mengenal istilah gank. Mereka nge-gank, dan bebas membully teman di luar gank mereka. Belum lagi siswi yang kedapatan merokok dengan leluasa, dan dengan bangganya dipamerkan di sosial media.

Ketika siswa-siswa itu mengalami degradasi moral, para pengajar pun harus dibuat ketakutan dilaporkan ke aparat penegak hukum apabila menegur siswa-siswa mereka. Terus terang, dengan berat hati saya katakan, fase perang pemikiran sudah semakin mendekati titik kulminasi.

Ingatkah dengan anak-anak Palestina yang dihabisi bangsa Israel? Mengapa mereka membunuh anak-anak tak berdosa? Karena mereka tidak ingin anak-anak Palestina tumbuh menjadi generasi Islam yang tangguh, yang bisa jadi di kemudian hari melakukan perlawanan dan mengancam eksistensi kaum laknatullah 'alaihim.

Namun yang terjadi di Indonesia, "pembunuhan" yang dilakukan tidak dengan cara menumpahkan darah. Pembunuhan dilakukan secara perlahan, tersistem, dan nyaris tidak kentara. Anak-anak dan cucu-cucu kita dirusak moralnya melalui tontonan dan segala macam kebebasan yang mudah diakses di gawai (gadget) mereka. Anak-anak dan cucu-cucu kita dirusak dengan cinta monyet dan gaya pacaran masa kini. Anak-anak dan cucu-cucu kita dirusak dengan narkoba berkemas cokelat, atau candu yang dimasukkan ke dalam tinta pulpen mereka, sehingga berbau harum. Dan anak-anak juga cucu-cucu kita dirusak oleh penyesatan demi penyesatan di buku-buku ajar mereka.

Ini adalah potret buram pendidikan di negeri kita hari ini. Barangkali di luar sana, masih ada mereka yang halus budi dan tuturnya. Namun, kalau virus mematikan ini menjangkiti mereka, mau apa?

Saya pernah mengingatkan tuturan Imam Syafi'i, syubbanul yaum rijalul ghad. Pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok. Kalau dari sekarang anak-anak dan cucu-cucu kita sudah dirusak sedemikian dahsyat, akan seperti apa pemimpin negeri kita 30 tahun ke depan?

Bapak dan ibu yang saat ini mengemban profesi mulia sebagai guru, jangan pernah letih mendidik putera-putera bapak/ibu di sekolah, agar tumbuh menjadi generasi yang benar-benar diharapkan bangsa. Setidaknya, dari 24 jam waktu dalam sehari, terjalin kebersamaan seorang siswa dengan gurunya selama 9 jam. Maka pada saat inilah, seorang siswa memperoleh curahan kasih sayang dari bapak/ibunya di sekolah. Sayangi, jangan menakuti. Generasi hari ini adalah generasi yang offensive. Generasi mudah membantah. Generasi mudah melawan. Semoga dengan pendekatan yang tepat, akan menghasilkan putera-puteri yang bermartabat. In syaa Allah.

3 komentar:

  1. Tapi sayangnya bu, kami sbg para guru hanya bisa mengajar.., mendidik bukan lagi di pegang kami para guru..
    Kurikulum yg di buat pemerintah mengkerdilkan peran guru, belum lagi LSM yg mengatasnamakan HAM.., kalo ada siswa yg kami didik keras sedikit aja, kami dilaporkan.., bahkan rekan guru kami hanya karena mencubit siswi, masuk penjara 3 tahun..

    Kurikulum yg dibuat pemerintah terlalu menyibukkan kami para guru, sehingga waktu untuk mengajar dan mendidik siswa semakin berkurang..

    Ketegasan guru dalam mengajar dan mendidik terganjal dengan alasan HAM..

    Saya ingat masa2 jadi siswa.., dimana saya saat tu sangat nakal, selalu berbuat salah.., apabila ada guru yg membentak bahkan nempeleng saya, orang tua malah bangga dan berterima kasih kepada guru yg bersangkutan..

    Beda dg sekarang.., udah jelas siswa salah, ditegasin oleh guru, malah orang tuanya gak teriman, bahkan lapor ke polisi dan LSM yg sok2 membela HAM..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sy sebagai guru masih bisa tegas kepada siswa dalam arti tegas menghukum jika mereka berbuat tidak pantas tetapi jelas bentuk hukumannya tidak menyakiti. Mencubit adalah bentuk hukuman yg kurang pantas bahkan bisa menimbulkan dendam apabila menyakitkan atau berbekas. Memang ada sebagian orang tua yg "MANJA" sehingga protesnya berlebihan tdk sesuai dg kesalahan gurunya dan sy anggap ortu model begini sdh angkuh dan sombong serta menyepelekan profesi seorang guru, ada baiknya masalah wibawa yg hrs kita bangun secara terus menerus dan konsekwen di depan para siswa. Dan jangan lupa selain kita mendoakan anak kita sendiri, kita juga harus mendoakan anak didik kita agar dimudahkan menyerap ilmu dan menjadi anak yg soleh/solehah karena dg kesolehan Insya Allah para siswa akan menjadi anak yg menyenangkan. Aamiin....

      Hapus
  2. Tapi bu.... para pendidik sekarang dibebankan Laporan kerja berkala dan laporan elektronik lainnya baik oleh Menpan maupun Pemda sehingga guru hanya isi laporan aja tugasnya agar dpt TKD dan Sertifikasi.
    Trims

    BalasHapus

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.